MASALAH-MASALAH PEMBANGUNAN
( Dosen H. Abbas Saleh, SE.MS,i )
1. Kemiskinan
Negara-negara berkembang telah jatuh ke
dalam lingkaran setan kemiskinan, Nurkse mengatakan : menempatkan suatu Negara
miskin terus menerus dalam suasana kemiskinan, misalnya simiskin mungkin tidak
cukup makan, karena kurang makan, maka kesehatannya menjadi lemah, kelemahan
fisiknya menyebabkan bahwa ia tidak cukup makan lagi, dan seterusnya.
Dasar lingkaran setan ini
berasal dari fakta bahwa di dalam Negara-negara berkembang produktivitas total
adalah rendah karena kekurangan modal, ketidak sempurnaan pasar,
keterbelakangan ekonomi. Produktivitas yang rendah terlihat dalam rendahnya
pendapatan rill, Tingkat pendapatan rill yang rendah berarti tingkat seving
rendah, mengakibatkan tingkat investasi yang rendah dan kekuarangan modal. Dan sebaliknya kekurangan
modal menyebabkan tingkat produktivitas yang rendah dengan demikian lengkaplah
sudah lingkaran setan itu dari segi supply.
Lingkaran setan lain menguatkan dan
berjalan bersama dengan lingkaran setan diatas, dari segi demand lingkaran itu
adalah sebagai berikut : Tingkat pendapatan rill yang rendah mengakibatkan
rendahnya permintaan dan sebaliknya menyebabkan rendahnya tingkat investasi dan
karena itu menimbulkan lagi kekuarangan modal dan produktivitas rendah.
Lingkaran setan yang ketiga terdapat dalam keterbelakangan sumber-sumber
alam dan manusia. Penyumbangan sumber alam tergantung pada kapasitas produkstif
rakyat Negara itu, jika penduduk terkebelakang dan buta huruf, sehingga tidak
memiliki keterampilan teknis, pengetahuan dan kewiraswastaan, maka sumber alam
tetap tidak dimanfaatkan/kurang dimanfaatkan, sebaliknya secara ekonomis
terkebelakang karena sumber-sumber alam tidak dikembangkan, karena
sumber-sumber alam tidak dikembangkan, karena sumber alam tidak/kurang
dikembangkan merupakan hal kurang baik sebagai konsekwensi maupun sebab dari
rakyat yang terkebelakang.
Jadi kemiskinan dan
keterbelakangan ekonomi adalah sama sebuah Negara adalah miskin karena Negara
itu terkebelakang. Sebah Negara terkebelakang karena Negara itu miskin dan
tetap terkebelakang, karena Negara itu memiliki sumber yang terkutuk tetapi kutukan
yang lebih pedas adalah bahwa kemiskinan bersifat kekal. Dalam memperoleh
gambaran secara garis besar atas masalah distribusi pendapatan dan kemiskinan
di Negara-negara berkembang. Kita telah memahami bahwa perpaduan tingkat
pendapatan perkapita yang rendah dan distribusi yang sangat tidak merata akan
menghasilkan kemiskinan absolute, pemahaman terhadap kadar dan jangkauan
distribusi pendapatan merupakan landasan dasar bagi setiap analisis masalah
kemiskinan di Negara-negara yang berpendapatan rendah.
Salah satu generaliasi(anggapan sederhana) yang paling sahih mengenai
penduduk miskin adalah bahwasanya mereka pada umumnya bertempat tinggal di
daerah pedesaan, dengan mata pencaharian pokok di bidang pertanian dan
kegiatan-kegiatan lainnya yang erat hubungan dengan sektor tradisional
tersebut, sebagai contoh telah diketahui bahwa sekitar dua pertiga penduduk
miskin di Negara-negara berkembang masih menggantungkan hidup mereka dari pola
pertanian yang subsisten, baik sebagai petani kecil atau buruh tani yang
berpenghasilan rendah, selanjutnya sepertiga penduduk miskin lainnya kebayakan
juga tinggal di pedesaan dan mereka semata-mata mengandalkan hidupnya dari
usaha-usaha jasa kecil-kecilan dan sebagaian kampung kumuh dipusat kota dengan
berbagai macam mata pencaharian rendah seperti penyapu jalan, pedagang asongan,
kuli kasar dll. Dapat disimpulkan bahwa Negara Afrika dan Asia sekitar 80%
hingga 90% kelompok miskin bertempat tinggal di pedesaan, sedangkan di Amerika
latin mencapai 50%. Untuk itu kebijakan pemerintah dalam upaya untuk mengurangi
kemiskinan harus diarahkan langsung kepada pembangunan desa pada umumnya dan
sektor-sektor pertanian pada umumnya. Bukan tercurah ke daerah-daerah perkotaan
dan berbagai sektor ekonominya yakni sektor industry modern dan komersial
lainnya.
2. Distrubusi Pendapatan
Badan Riset dan Bank Dunia dan
Institute of Development Studies dari Universitas Sussex telah mengadakan usaha
bersama untuk mengadakan serentetan analisa mengenai distribusi pendapatan
dalam pembangunan ekonomi Negara-negara berkembang. Di antara analisa tersebut
adalah Analisa Ahluwalia yang
memberikan gambaran mengenai keadaan distribusi pendapatan. Di beberapa Negara
pada beberapa tahun dan pengaruh pembangunan ekonomi terhadap distribusi pendapatan
berikut ini diringkaskan hasil-hasil dan studi tersebut.
Mengenai keadaan distribusi pendapatan
di beberapa Negara, analisanya memberikan gambaran mengenai distribusi
pendapatan relative maupun distribusi pendapatan mutlak. Yang dimaksud dengan
distribusi pendapatan relative adalah perbandingan jumlah pendapatan yang
diterima oleh berbagai golongan penerima pendapatan. Dan penggolongan ini
didasarkan kepada besarnya pendapatan yang mereka terima. Sedangkan distribusi
pendapatan mutlak adalah persentase jumlah penduduk yang pendapatannya mencapai
suatu tingkat pendapatan tertentu atau kurang dari padanya.
Untuk menggambarkan distribusi pendapatan relative di beberapa Negara,
Ahluwalia menggolongkan penerima-penerima pendapatan dalam tiga golongan yaitu
40 persen penduduk yang menerima pendapatan paling rendah, 40 persen penduduk
pendapatan menengah dan 20 persen penduduk berpendapatan paling tinggi.
Sebenarnya di beberapa Negara berkembang distribusi pendapatan penduduknya
tidak seburuk seperti yang dinyatakan diatas. Dengan membedakan Negara-neghara
berkembang menjadi dua golongan yaitu golongan yang distribusi pendapatannya
lebih merata dan golongan yang distribusi pendapatannya sangat tidak merata,
maka ternyata bahwa gambaran mengenai distribusi pendapatan di Negara-negara ini
sangat berbeda sekali dengan yang dinyatakan diatas. Penyelidikan Ahluwalia
menunjukkan bahwa di segolongan Negara-negara berkembang 40 persen penduduk
yang berpendapatan paling rendah 18 persen dari keseluruhan pendapatan
masyarakat. Dan sebaliknya di segolongan Negara lainnya 40 persen penduduk
dengan pendapatan terendah menerima 9 persen dari keseluruhan pendapatan
masyarakat. Jadi ternyata di antara Negara-negara berkembang terdapat
Negara-negara yang distribusi pendapatannya lebih baik pada distribusi
pendapatan rata-rata di Negara-negara maju. Akan tetapi sebaliknya pula
terdapat Negara-negara berkembang yang masalah ketidak merataan pendapatan
mereka sangat serius.
3. Pengangguran
Dalam pembangunan ekonomi Negara-negara
berkembang, pengangguran yang semakin bertambah jumlahnya merupakan masalah
yang lebih rumit dan lebih serius dari pada masalah perubahan dalam distribusi
pendapatan yang kurang menguntungkan penduduk yang berpendapatan rendah.
Keadaan di Negara-negara berkembang dalam beberapa dasawarsa ini menunjukkan
bahwa pembangunan ekonomi ekonomi tidak sanggup mengadakan kesempatan kerja
yang lebih cepat dari pada pertambahan penduduk oleh karenanya masalah
pengangguran yang mereka hadapi dari tahun ke tahun semakin lama semakin
bertambah serius. Walaupun para ahli ekonomi telah menyadari bahwa masalah
pengangguran di Negara-negara miskin
keadaan semakin memburuk.
Pengangguran-pengangguran tersebar
diberbagai daerah yaitu mereka terdapat di daerah-daerah urban maupun di daerah
pedesaan. Di daerah-daerah pedesaan pengguran yang terjadi biasanya dibedakan
dalam dua pengertian: pengangguran tersembunyi dan pengangguran musiman.
Pengangguran tersembunyi biasanya diartikan sebagai golongan tenaga kerja yang
produktivitasnya batasnya adalah nol atau negative, sehingga walaupun mereka
berkerja usaha mereka tersebut tidak akan menaikkan produksi. Sedangkan
pengangguran musiman adalah pengangguran yang terjadi pada masa-masa tertentu
yaitu pada bulan-bulan di mana kegiatan
pertanian atau kegiatan produksi lainnya di daerah pedesaan lebih sedikit
dilakukan dibandingkan dengan pada masa-masa lainnya
4. Bantuan Luar Negeri.
Aliran modal luar negeri dinamakan bantuan
luar negeri apabila ia mempunyai dua ciri-ciri berikut: pertama ia merupakan
aliran modal yang bukan di dorong oleh tujuan untuk mencari keuntungan dan
kedua dana tersebut diberikan kepada Negara penerima atau dipinjamkan dengan
syarat-syarat yang lebih ringan dari pada yang berlaku dalam pasar
internasional. Berdasarkan dari dua ciri tersebut, aliran modal dari luar
negeri yang tergolong sebagai bantuan luar negeri adalah pemberian(grant) dan
pinjaman luar negeri(loan) yang diberikan oleh pemerintah Negara-negara maju
atau badan-badan internasional yang khusus di bentuk untuk memberikan pinjaman
semacam ini, seperti Bank Dunia. Bank Pinjaman Pembangunan Asia dan sebagainya
Aliran modal dari luar negeri lainnya yaitu pinjaman dari perusahaan-perusahaan
swasta dan badan-badan keuangan swasta dan penanaman modal asing tidaklah
memenuhi syarat untuk digolongkan sebagai bantuan luar negeri.
Pemberian merupakan suatu bantuan penuh
dari Negara donor kepada Negara penerima. Karena Negara penerima tidak
diwajibkan untuk membayar kembali atau melakukan balas jasa lain sebagai
imbalan kepada pemberian tersebut. Sedangkan pinjaman luar negeri yang berasal
dari pemerintah dan badan-badan internasional yang dijelaskan diatas bukanlah
bantuan penuh karena Negara penerima mempunyai kewajiban untuk membayar kembali
dan membayar bunga atas pinjaman tersebut. Besarnya unsur bantuan yang
terkandung dalam pinjaman Luar negeri terkandung kepada syarat-syarat
pembayaran kembali dari bantuan tersebut, yaitu tergantung kepada tenggang
waktu(grace priod) dan tingkat bunga dari bantuan yang diberikan. Unsur bantuan
yang terkandung dalam suatu pinjaman luar negeri bertambah tinggi dan ia
dinamakan sebagai pinjaman bersyarat ringan(soft loan) apabila tenggan waktu
bertambah lama, jangka waktu pembayaran kembali bertambah panjang dan tingkat
bunganya bertambah rendah. Apabila syarat-syarat tersebut adalah sebaliknya
yaitu tenggang waktu dan jangka masa pembayaran kembali adalah relative singkat
dan bunga relative tinggi, maka pinjaman luar negeri itu tergolong sebagai
pinjaman bersyarat berat(hard loan).
Bentuk syarat-syarat bantuan yang diberikan kepada suatu Negara
berkembang tergantung kepada faktor-faktor ekonomi maupun politik, seperti
tingkat pendapatan perkapita, tingkat pertumbuhan ekonomi yang diharapkan,
tingkat perkembangan perdagangan luar negeri dari Negara-negara pemberi dan
penerima bantuan, jenis bantuan. Oleh karenanya sesuatu Negara donor pada
umumnya memberikan syarat-syarat yang berbeda kepada setiap Negara. Walaupun
demikian secara umum dapatlah dikatakan bahwa semakin miskin sesuatu Negara dan
semakin rumit masalah pembangunan yang dihadapi, semakin ringan syarat-syarat
bantuan yang diberikan padanya.
5. Penanaman Modal Asing.
Dari uraian-uraian terdahulu telah dapat disimpulkan bahwa masalah
kekurangan dana untuk pembentukan modal bukan saja dihadapi oleh sektor
pemerintah tetapi juga oleh sektor sewasta. Di Negara-negara berkembang
kegiatan ekonomi yang dapat diusahakan oleh pihak swasta masih mempunyai
kemungkinan untuk berkembang lebih laju lagi apabila tersedia lebih banyak
modal dan terdapat kemampuan untuk menggunakan tambahan modal itu secara lebih
efektif. Seperti juga dengan yang berlaku disektor pemerintah. Masalah tersebut
dapat diatasi dengan memasukkan modal dari luar negeri, terutama dari
Negara-negara maju. Walaupun mempunyai peranan yang sama seperti bantuan luar
negeri yang diterima oleh sektor pemerintah, modal luar negeri digunakan untuk
mengisi kekurangan modal di sektor swasta tidak boleh digolongkan sebagai
bantuan luar negeri, ini disebabkan karena syarat-syarat pinjaman swasta dan
penanaman modal asing adalah sama dengan yang berlaku di pasar internasional.
Apabila modal tersebut berupa pinjaman maka tingkat bunganya adalah tidak
berbeda dengan yang berlaku di pasar internasiona. Dan apabila modal tersebut
berupa penanaman modal, maka keuntungan yang akan diperoleh adalah bebas untuk
dikirim kembali ke Negara-negara asal modal tersebut, yaitu sesuai dengan cara
pembayaran keuntungan yang pada umumnya dilakukan atas penanaman modal asing di
Negara-negara maju. Berdasarkan kepada hal ini dapatlah dikatakan bahwa pada
umumnya pihak swasta dinegara-negara maju meminjamkan dan menanaman modalnya ke
Negara-negara berkembang bukan atas dasar keinginan untuk memberi bantuan
tetapi untuk memperoleh keuntungan dari padanya. Oleh karena aliran modal
tersebut, walaupun membantu Negara-negara berkembang mengatasi masalah
kekurangan tabungan dan mata uang asing berarti memegang peranan yang sama
seperti bantuan luar negeri, tidak dapat dipandang sebagai bantuan luar negeri.
Berdasarkan kepada sifat-sifatnya, modal asing swasta yang mengalir dari
Negara-negara maju ke Negara-negara berkembang dapat dibedakan dalam tiga jenis
yaitu Penanaman modal langsung(direct
foreign investment), Penanaman modal
portofolio(portofolio investment) dan Pinjaman
eksport(export credit).
6. Pemerataan Pembangunan
Pembangunan Ekonomi Indonesia pada era
Orde Baru, sebagai suatu kebijaksanaan pemerintah pada saat itu, untuk mencapai
pemerataan pembangunan ekonomi Indonesia, ditetapkan langkah-langkah dan
kebijaksanaan-kebijaksanaan pembangunan ekonomi menurut jalur-jalur yang
disebut “Trilogi Pembangunan” yaitu :
1. Pemerataan pembangunan dan
hasil-hasilnya.
2. Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi
3. Terpeliharanya Stabilitas ekonomi
yang makin mantap dan dinamis.
Pemerataan pembanguna dan hasil-hjasilnya diusahakan dalam pencapaian antara
lain melalui “Delapan Jalur Pemerataan”
yaitu :
1).
Pemerataan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat banyak khususnya pangan
sandang dan Papan(Perumahan).
2).
Pemerataan pembangian pendapatan.
3).
Pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan dan pelayanan kesehatan.
4).
Pemerataan kesempatan kerja
5).
Pemerataan kesempatan berusaha
6).
Pemerataan kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan khususnya bagi
generasi muda dan wanita.
7).
Pemerataan penyebaran pembangunan di seluruh tanah air
8). Pemerataan
kesempatan memperoleh keadilan.
Dengan pemerataan ini ditujukan untuk
terciptanya keadilan social bagi seluruh rakyat dan bangsa Indonesia. Dan tercapainya
kesejahteraan bagi seluruh rakyat bangsa Indonesia.
7. Dualisme dalam beberapa Aspek Kegiatan Ekonomi
Sebelum Peran Dunia ke II,
Perekonomian di Negara-negara berkembang, suatu keadaan dimana perkembangannya
tidak mengalami perkembangan yang diharapkan untuk dapat menjamin peningkatan
kesejahteraan masyarakat yang terus menerus. Pembangunan ekonomi di Negara-negara
berkembang, mengalami masalah karena timbulnya beberapa jenis dualisme yaitu
kegiatan-kegiatan ekonomi atau keadaan ekonomi tidak mempunyai sifat yang
seragam, secara tegas dualisme tersebut dibedakan dalam dua golongan.
1). Kegiatan ekonomi dan keadaan
ekonomi yang masih dikuasai oleh unsur-unsur yang
bersifat tradisional.
2). Berbagai kegiatan ekonomi dan
keadaan ekonomi yang dikuasai oleh unsur-unsur
yang bersifat modrn.
Berdasarkan sifat dari keadaan
dualisme, maka kita kenal jenis-jenis dualisme :
1. Dualisme Sosial,
yaitu di dalam masyarakat mungkin terdapat dua sitem sosial yang berbeda, misalnya
sistem sosial yang berasal dari luar(import) dan juga berlaku sistem sosial
pribumi.
2. Dualisme Teknologi yaitu, suatu keadaan dimana di dalam suatu bidang kegiatan ekonomi
tertentu digunakan teknik memproduksi dan organisasi produksi yang sangat
berbeda coraknya sehingga mengakibatkan perbedaan produktivitas.
3. Dualisme Financial, yaitu dinegara berkembang, di dalam masyarakat terdapat dua golongan
yaitu terdapat pasar uang yang memiliki organisasi dan terdapat pula pasar yang
tidak terorganisir.
4. Dualisme Regional, yaitu Keadaan di dalam masyarakat adanya ketidak seimbangan diantara
tingkat pembangunan di berbagai daerah dalam suatu Negara.
------------------------
Doa Penutup Majelis
Ilmu (Kuliah)
سُبْحَانَكَ اَللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ
إِلاَّ أَنِتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ
SUBHANAKALLAHUMMA WA-BHIHAMDIKA, ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLAA ANTA, ASTAGHFIRUKA WA-ATUUBU ILAIK
( Maha suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah dengan haq selain Engkau, aku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu) HR. at-Tirmisi, Abu Daud, An-Nasai. Ibnu Majah.